polaslot138
polaslot138
polaslot138
polaslot138
maxwin138
maxwin138
maxwin138
maxwin138
maxwin138
epicwin138
epicwin138
epicwin138
wibu69
epicwin138
besti69
besti69
besti69

Cara Adzan Bayi Laki-Laki dan Perempuan, Ketahui Tujuannya

Cara Adzan Bayi Laki-Laki dan Perempuan, Ketahui Tujuannya

Meski demikian, ada perbedaan pendapat di antara para ulama tentang bagaimana sebenarnya hukum adzan bayi.Berikut adalah sejumlah perbedaan pendapat di antara ulama tentang hukum adzan bayi:

Para ulama bersepakat bahwa mengumandangkan bacaan adzan sebelum melaksanakan sholat itu disyariatkan. Hanya saja, mereka berbeda pendapat jika adzan tersebut ditujukan untuk selain sholat, seperti bacaan adzan untuk bayi yang baru saja dilahirkan. Berikut hukumnya:

1. Hukum Adzan Bayi Menurut Ulama Mazhab Hanbali

Syekh Ibnu Abidin dari mazhab Hanafi menuturkan:

“Pembahasan tentang tempat-tempat yang disunnahkan mengumandangkan adzan untuk selain (tujuan) shalat, maka disunnahkan mengadzani telinga bayi.” (Muhammad Amin Ibnu Abidin, Raddul Muhtar Ala Ad-Durril Mukhtar, juz 1, h. 415).

Sementara Imam Nawawi, sebagai salah satu icon ulama mazhab Syafi’i, menuliskan masalah ini di dalam kitab fikihnya yang fenomenal, Al-Majmu’:

“Disunnahkan mengumandangkan adzan pada telinga bayi saat ia baru lahir, baik bayi laki-laki maupun perempuan, dan adzan itu menggunakan lafadz adzan shalat. Sekelompok sahabat kita berkata: Disunnahkan mengadzani telinga bayi sebelah kanan dan mengiqamati telinganya sebelah kiri, sebagaimana iqamat untuk sholat.” (Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Al-Majmu’, juz 8, h. 442).

2. Hukum Adzan Bayi Menurut Ulama Mazhab Maliki

Syekh Al-Hattab dari mazhab Maliki menyebutkan:

“Saya berkata: Dan orang-orang telah terbiasa melakukan hal itu (mengadzani dan mengiqamati bayi), maka tidak apa-apa dilaksanakan.” (Muhammad bin Muhammad Al-Hattab, Mawahibul Jalil fi Syarhi Mukhtashari Khalil, juz 3, h. 321).

3. Hukum Adzan Bayi Adalah Makruh

Syekh Al-Hattab dari mazhab Maliki menulis,

“Syekh Abu Muhammad bin Abi Zaid berkata dalam kitab Al-Jami’ min Mukhtasharil Mudawwanah: Imam Malik menghukumi makruh dikumandangkannya adzan pada telinga bayi yang baru dilahirkan.” (Muhammad bin Muhammad Al-Hattab, Mawahibul Jalil fi Syarhi Mukhtashari Khalil, juz 3, h. 321).

Mayoritas ulama meliputi ulama mazhab Hanafi, dan ulama mazhab Syaf’i menghukuminya sunnah. Sebagian ulama mazhab Maliki menghukuminya mubah. Sedangkan, sebagian ulama mazhab Maliki yang lain menganggapnya makruh. Dari ketiga pendapat di atas, tampaknya pendapat yang menyunahkan bacaan adzan pada bayi yang baru dilahirkan merupakan pendapat yang kuat, sebab didukung oleh beberapa hadis, salah satunya HR. Tirmidzi seperti yang disebutkan di atas.

Selain hadis di atas, ada pendapat lain juga diperkuat oleh hadits riwayat Husein bin Ali:

“Dari Husein, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa yang dilahirkan untuknya seorang bayi, lalu dia mengazani telinganya sebelah kanan, dan mengiqamati telinganya sebelah kiri, maka ia tidak akan celaka oleh Ummu Shibyan (jin pengganggu anak kecil).” (HR. Abu Ya’la Al-Mushili).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *